Sejarah Baru Kaur
MoU Kerjasama Pembangunan Kabupaten Kaur dengan Kabupaten Muara Enim, pembangunan jalan baru menembus perbatasan
Virtual Meeting Musrenbang RKPD 2021 Provinsi Bengkulu
Pantai Way Hawang
Wisata Pantai, Taman Wisata Alam Way Hawang yang erat dengan kisah lama si Pahit Lidah....
Rapat Koordinasi Pemantapan Jadwal Musrenbang RKPD Tingkat Kecamatan 2020
Rapat Koordinasi dalam rangka persiapan Musrenbang RKPD Tingkat Kecamatan Se-Kabupaten Kaur tahun anggaran2021
Pantai Laguna Ujung Lancang
Wisata Bahari yang sedang populer saat ini.
Pantai Wisata Air Langkap
Siaga Corona Covid-19
https://www.covid19.go.id/

Berita

Prioritas Pemerintah di RKP 2021 pasca Pandemi Covid-19

 Jakarta, Pemerintah dinilai memerlukan kebijakan yang belum pernah dilakukan sebelumnya untuk mengatasi pandemi Covid-19. Dengan menekan rantai pemutusan virus yang disertai dengan intervensi kebijakan ekonomi secara maksimal, maka ekonomi akan lebih cepat pulih dan kembali normal. Soal ini, kata Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, Indonesia bisa mempelajari langkah Tiongkok yang telah berhasil menekan laju penyebaran corona dengan baik. Dengan demikian, Indonesia mampu melakukan recovery lebih cepat dibandingkan dengan negara lain di dunia.

“Apa yang kita alami dalam pandemi ini seperti menjadi wake up call untuk kita. Ada yang sesuatu yang perlu dipersiapkan oleh bangsa ini ke depan. Karena itu, tema pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2021 salah satunya melakukan reformasi sosial dalam bidang kesehatan,” kata Suharso dalam sambutannya dalam acara Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat (Rakorbangpus) 2020 beberapa waktu lalu. Suharso mengatakan, Presiden Joko Widodo memberikan arahan kepada Bappenas untuk melakukan redesign sistem kesehatan nasional, sistem perlindungan nasional, dan sistem ketahanan bencana. Tema yang ditetapkan pada RKP 2021 yakni “Mempercepat Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Sosial” yang adaptif dan responsif sebagai upaya pemulihan pembangunan nasional pascapandemi Covid-19.

Karena itu, pembangunan 2021 akan difokuskan pada pemulihan ekonomi untuk sektor industri, pariwisata, dan investasi; reformasi sistem kesehatan nasional; reformasi sistem perlindungan sosial; dan reformasi sistem ketahanan bencana. RKP 2021, kata Suharso, mencakup 7 prioritas nasional (PN).Dari 7 prioritas itu, akan dilakukan penekanan memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas dan berkeadilan; meningkatkan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing; memperkuat infrastruktur untuk mendukung pengembangan ekonomi dan pelayanan dasar; serta membangun lingkungan hidup, meningkatkan ketahanan bencana, dan perubahan iklim.“Target pembangunan 2020 dan 2021 tentu akan terkoreksi. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama yang diumumkan BPS, mencapai 2,97% dan mudah-mudahan kita benar-benar bisa rerata 2,3% pada 2020 ini,” kata Suharso. Sasaran pembangunan nasional pada 2021, kata Suharso, adalah pulihnya perekonomian nasional pasca-pandemi Covid-19 yang ditandai dengan laju pertumbuhan ekonomi pada kisaran 4,5%–5,5%. Juga beberapa target lain seperti tingkat kemiskinan di angka 9,2%-9,7%, tingkat pengangguran terbuka pada 7,5%-8,2%, rasio gini pada 0,377–0,379, serta Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada 72,78 – 72,90.

Sebagai implementasi dari prinsip Money Follow Program, alokasi pagu indikatif pada kementerian/lembaga (K/L) diutamakan untuk pemulihan ekonomi sesuai tema RKP 2021. Berkaitan dengan pemulihan ekonomi ke depan, langkah konkret dalam penyusunan RKP 2021 dimulai dari Major Projects yang terkait langsung dengan pemulihan ekonomi: 10 destinasi pariwisata prioritas dengan pendanaan Rp 3,2 triliun; 9 kawasan industri di luar Jawa dan 31 smelter dengan pendanaan Rp 0,6 triliun. Di dalam pembangunan kawasan industri dan smelter ini belanja pemerintah merupakan fasilitator untuk swasta berperan; industri 4.0 di 5 sub-sektor prioritas dengan pendanaan Rp 1,3 triliun; pendidikan dan pelatihan vokasi untuk industri 4.0 dengan pendanaan Rp 4,3 triliun; dan jaringan pelabuhan utama terpadu yang pendanaannya oleh BUMN/swasta.

Selain itu, pemulihan ekonomi juga akan didukung penguatan ketahanan pangan dan infrastruktur dengan total pendanaan Rp 37 triliun melalui Major Projects penguatan jaminan usaha serta 350 korporasi petani dan nelayan, juga melalui dukungan beberapa Major Projects infrastruktur. Selain dari langkah untuk memulihkan kembali ekonomi, Kementerian PPN/Bappenas saat ini juga sedang mematangkan kesiapan dan rincian proyek serta pendanaan untuk penguatan sistem kesehatan nasional dan penanganan bencana khususnya nonalam untuk memperkuat ketahanan nasional terhadap tantangan ke depan.

Pada kegiatan Rakorbangpus kali ini, Kementerian PPN/Bappenas membahas dokumen rancangan awal RKP 2021 dan bersama-sama dengan Kementerian Keuangan, turut menyampaikan surat bersama pagu indikatif K/L Tahun Anggaran 2021 kepada masing-masing K/L di akhir acara. “Tahun 2021, tahun pemulihan kita dan kita berharap kita bisa memahami keadaan. Kita harus disiplin dengan RKP, mudah-mudahan pada 2022, kita bisa lebih baik lagi dan mengejar apa yang tertinggal pada tahun 2020-2021,” kata Suharso.

Sumber : http://www.theiconomics.com/art-of-execution/7-prioritas-pemerintah-di-rkp-2021-pasca-wabah-virus-corona/

Laporan Perkembangan Ekonomi Indonesia dan Dunia Triwulan I Tahun 2020

Pada triwulan I tahun 2020 dunia diguncang pandemi COVID-19 yang memaksa berbagai negara mengurangi aktivitas ekonomi. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi semua negara kembali tertekan. Pertumbuhan beberapa negara mengalami kontraksi, dan sebagian lainnya masih tumbuh positif meskipun jauh dibawah pertumbuhan normal. Perekonomian Tiongkok berbalik terkontraksi hingga 6,8 persen. Jepang terkontraksi semakin dalam sebesar 3,4 persen. Sementara itu, Amerika Serikat masih tumbuh positif sebesar 0,3 persen. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri tertekan menjadi 2,97 persen. 

Pertumbuhan ekonomi di sebagian besar wilayah tumbuh lebih lambat. Wilayah Bali Nusra, Kalimantan, serta Maluku Papua tumbuh di bawah pertumbuhan nasional. Seluruh komponen pengeluaran menunjukkan perlambatan yang cukup signifikan. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat menjadi sebesar 2,8 persen. Kinerja ekspor dan impor juga menurun seiring terhambatnya aktivitas perdagangan antar negara. Impor terkontraksi 2,2 persen sementara ekspor tumbuh 0,2 persen. Sektor utama Indonesia tumbuh melambat namun sektor jasa tumbuh lebih cepat. Sektor jasa kesehatan tumbuh hingga 10 persen pada triwulan berjalan. Kinerja tersebut terkait dengan penyebaran wabah COVID-19 yang mendorong permintaan jasa kesehatan. 

Tahun 2020 diperkirakan akan mejadi tahun yang berat terutama dari sisi perpajakan. Hingga akhir triwulan I tahun 2020, penerimaan perpajakan melambat 0,02 persen. Namun, secara keseluruhan realisasi pendapatan negara dan hibah meningkat hingga Rp376,0 triliun. Sementara itu, belanja negara juga meningkat menjadi Rp452,4 triliun didorong oleh belanja modal dan belanja sosial. Meskipun meningkat, namun komponen Transfer Ke Daerah dan Dana Desa mengalami penurunan yang terkendala proses pemenuhan persyaratan penyaluran TKDD. 

Dari sisi moneter, suku bunga acuan diturunkan secara bertahap dari 5,00 persen menjadi 4,50 persen sepanjang triwulan I tahun 2020. Kondisi pasar keuangan global yang tertekan ketidakpastian pandemi menyebabkan nilai tukar Rupiah melemah cukup dalam selama Februari hingga Maret. Namun, inflasi domestik tetap terkandali dan stabil pada kisaran 3±1 persen, meskipun inflasi harga bergejolak mencapai 6 persen. Sektor jasa keuangan cukup terkendali ditopang oleh kondisi permodalan dan likuiditas. 

Kinerja neraca pembayaran Indonesia mengalami defisit disebabkan oleh turunnya surplus neraca transaksi modal dan finansial sejalan dengan ketidakpastian di pasar keuangan global. Sementara itu, defisit neraca transaksi berjalan turun didorong peningkatan neraca perdagangan barang yang lebih besar dari kenaikan defisit neraca jasa. 

Pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2020 secara keseluruhan diprediksi terkontraksi yang terutama terjadi di negara-negara maju. Sebagian negara di Asia diprediksi tetap tumbuh positif. Pertumbuhan Indonesia diproyeksi melambat dalam rentang -0,4 hingga 2,3 persen dengan puncak perlambatan pada triwulan II tahun 2020. Perlambatan terjadi pada seluruh komponen pengeluaran terutama konsumsi rumah tangga. Sementara itu, kinerja ekspor dan impor diprediksi terkontraksi pada keseluruhan tahun ini.

 Perkembangan Ekonomi Indonesia dan Dunia Triwulan I Tahun 2020 : Download

Sourcehttps://www.bappenas.go.id/id/berita-dan-siaran-pers/laporan-perkembangan-ekonomi-indonesia-dan-dunia-triwulan-i-tahun-2020/