Potensi Serat Sabut Kelapa Kabupaten Kaur

KebunKelapa Masyarakat Kaur
Kebun Kelapa Masyarakat Kaur

Sabut kelapa merupakan hasil samping, dan merupakan bagian yang terbesar dari buah kelapa, yaitu sekitar 35 persen dari bobot buah kelapa. Dengan demikian, apabila secara rata-rata produksi buah kelapa per tahun adalah sebesar 5,6 juta ton, maka berarti terdapat sekitar 1,7 juta ton sabut kelapa yang dihasilkan. Potensi produksi sabut kelapa yang sedemikian besar belum dimanfaatkan sepenuhnya untuk kegiatan produktif yang dapat meningkatkan nilai tambahnya. Serat sabut kelapa, atau dalam perdagangan dunia dikenal sebagai Coconut Fiber, Coir fiber, coir yarn, coir mats, dan rugs, merupakan produk hasil pengolahan serabut kelapa. Secara tradisionil serat sabut kelapa hanya dimanfaatkan untuk bahan pembuat sapu, keset, tali dan alat-alat rumah tangga lain. Perkembangan teknologi, sifat fisika-kimia serat, dan kesadaran konsumen untuk kembali ke bahan alami, membuat serat sabut kelapa dimanfaatkan menjadi bahan baku industri karpet, jok dan dashboard kendaraan, kasur, bantal, dan hardboard. Serat sabut kelapa juga dimanfaatkan untuk pengendalian erosi dan juga diproses untuk dijadikan Coir Fibre Sheet yang digunakan untuk lapisan kursi mobil, Spring Bed dan lain-lain.

Hasil samping pengolahan serat sabut kelapa berupa butiran-butiran gabus sabut kelapa, dikenal dengan nama Cocopeat. Sifat fisika kimianya yang dapat menahan kandungan air dan unsur kimia pupuk, serta dapat menetralkan keasaman tanah menjadikan hasil samping ini mempunyai nilai ekonomi. Cocopeat digunakan sebagai media pertumbuhan tanaman hortikultur dan media tanaman rumah kaca. Dari aspek teknologi, pengolahan serat sabut kelapa relatif sederhana yang dapat dilaksanakan oleh usaha-usaha kecil. Adapun kendala dan masalah dalam pengembangan usaha kecil/menengah industri pengolahan serat sabut kelapa adalah keterbatasan modal, akses terhadap informasi pasar dan pasar yang terbatas, serta kualitas serat yang masih belum memenuhi persyaratan.

Hasil turunan olahan sabut kelapa ini adalah dibuat tali sabut kelapa yang biasanya disebut coconut coir, coco coir atau coir rope. Tali sabut kelapa ini biasanya dipergunakan untuk keset dalam industri rumah tangga, Dalam kemajuan teknologi sekarang ini, tali sabut kelapa atau disebut coconut coir ini telah dipergunakan dan dikembangkan menjadi jaring sabut kelapa atau disebut cocomesh, yang dipergunakan untuk reklamasi tambang. Jumlah tambang di Indonesia yang banyak adalah merupakan pangsa pasar yang sangat besar di dunia untuk penjualan jaring sabut kelapa (cocomesh).

Sebagai negara kepulauan dan berada di daerah tropis dan kondisi yang mendukung, Indonesia merupakan negara penghasil kelapa yang utama di dunia. Pada tahun 2013, luas areal tanaman kelapa di Indonesia mencapai 3,65 juta Ha, dengan total produksi sebanyak 3,05 juta ton kelapa, yang sebagian besar (95 persen) merupakan perkebunan rakyat. Kelapa mempunyai nilai dan peran yang penting baik ditinjau dari aspek ekonomi maupun sosial budaya. Serat sabut kelapa bagi negara-negara tetangga penghasil kelapa sudah merupakan komoditi ekspor yang memasok kebutuhan dunia yang berkisar 700 ribu ton pada tahun 2013. Indonesia walaupun merupakan negara penghasil kelapa terbesar di dunia, pangsa pasar serat sabut kelapa masih sangat kecil. Kecenderungan kebutuhan dunia terhadap serat kelapa yang meningkat dan perkembangan jumlah dan keragaman industri di Indonesia yang berpotensi dalam menggunakan sabut kelapa sebagai bahan baku / bahan pembantu, merupakan potensi yang besar bagi pengembangan industri pengolahan serat sabut kelapa.

Berdasarkan Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Kelapa 2013 – 2015 Direktorat Jenderal Perkebunan (2014), Kabupaten Kaur merupakan penghasil kelapa terbesar di provinsi Bengkulu yang memiliki 2.253 ha lahan perkebunan kelapa rakyat dengan total produksi mencapai 1.762 ton dan produktivitas sebesar 1.455 kg/ha. Dengan produksi tersebut berarti terdapat sekitar 616,7 juta ton sabut kelapa yang dihasilkan pertahunnya, dan diperkirakan hasil kelapa per hari berkisar 20.000 butir/ hari.

Luas Areal dan Produksi Kelapa Dalam Perkebunan Rakyat Menurut Kabupaten dan Keadaan Tanaman Tahun 2013

Provinsi Kabupaten Luas Areal/Area (Ha) Produksi

(Ton)

Produktivitas

(Kg/ha)

Jumlah Petani (KK)
TBM TM TTM/TR JUMLAH
BENGKULU Kab. Bengkulu Utara

Kab. Mukomuko

Kab. Rejang Lebong

Kab. Kepahiang

Kab. Lebong

Kab. Bengkulu Selatan

Kab. Seluma

Kab. Kaur

Kota Bengkulu

Kab. Bengkulu Tengah

225

138

68

28

84

188

141

1.000

6

700

1.821

484

234

115

228

712

982

1.211

167

628

126

13

26

3

37

51

153

42

24

10

2.172

635

328

146

349

951

1.276

2.253

197

1.338

2.502

415

215

126

322

823

1.311

1.762

212

765

1.374

857

919

1.096

1.412

1.156

1.335

1.455

1.269

1.218

14.893

2.002

1.441

1.670

4.135

3.942

11.964

7.510

2.354

4.460

PROVINSI/PROVINCE 2.578 6.582 485 9.645 8.453 1.284 54.371

Sumber : Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Kelapa 2013 – 2015, Direktorat Jenderal Perkebunan (2014)

TumpukanSabut Kelapa
Tumpukan Sabut Kelapa

Selama ini sabut kelapa di Kabupaten Kaur belum dimanfaatkan secara maksimal. Hasil kelapa masyarakat rata-rata dijual keluar daerah dalam bentuk kelapa kupas, sementara sabut kelapa hasil pengupasan kelapa dibiarkan menumpuk di kebun-kebun kelapa masyarakat dan terbuang percuma ataupun dibakar tanpa dimanfaatkan sebagai sumber penghasilan lebih lanjut bagi masyarakat.

Produk Sabut Kelapa Mentah
Produk Sabut Kelapa Mentah

Potensi persaingan industri serat sabut kelapa dapat ditinjau dari aspek persaingan produk substitusi dan persaingan industri sejenis. Dari aspek persaingan produk substitusi, khususnya sebagai bahan baku untuk industri jok kursi (mobil dan rumah tangga), dash board mobil, tali dan produk sejenis, serat sabut kelapa menghadapi persaingan dengan industri produk sintetis seperti karet busa dan plastik. Walaupun demikian, karakteristik fisika-kimia serat sabut kelapa yang spesifik dan biodegradable serta berfungsi sebagai heat retardant menjadikan serat sabut kelapa mempunyai fungsi yang spesifik yang tidak dapat digantikan oleh produk sintetis. Selain itu kesadaran konsumen terhadap kelestarian akan lingkungan dan kecenderungan untuk kembali menggunakan produk alami, menyebabkan serat sabut kelapa mempunyai peluang pasar dan mampu bersaing dengan produk-produk sintetis. Selain itu karakteristik fisika kimia serat sabut kelapa menjadikan serat sabut kelapa berpotensi sebagai bahan baku untuk pengembangan produk industri seperti geotextile.Pemerintah Kabupaten Kaur melalui Kementerian Koperasi pada tahun 2007 sudah pernah mencoba untuk mengusahakan sabut kelapa masyarakat berupa bantuan mesin dan peralatan press sabut kelapa, namun belum mampu memberikan nilai lebih bagi pemanfaatan sabut kelapa di masyarakat, kendala terbesar saat itu adalah kapasitas press mesin yang tidak ekonomis. Sebagian masyarakat sebenarnya mengetahui bahwa prospek pasar serat sabut kelapa cukup menjanjikan, namun keterbatasan modal kerja dan kapasitas mesin selain itu permintaan tidak dapat karena ketidakcocokan harga.

Produk sabut kelapa matras
Produk sabut kelapa matras
Produk Sabut kelapa Geotextil
Produk Sabut kelapa Geotextil

Ditinjau dari kecenderungan permintaan dunia terhadap serat sabut kelapa yang meningkat, serta kontribusi Indonesia yang masih sangat kecil dalam perdagangan dunia, serat sabut kelapa Indonesia mempunyai keunggulan komparatif (potensi produksi sabut kelapa) dan mempunyai peluang yang besar. Peluang tersebut dapat diraih dengan syarat adanya perbaikan dan pengembangan teknologi proses sehingga menghasilkan serat yang memenuhi persyaratan kualitas yang diinginkan pasar.

Harga serat sabut kelapa di pasaran ekspor pada tahun 2014 berkisar sebesar US $ 350-383 per ton (FOB). Harga serat sabut kelapa Indonesia di pasaran ekspor relatif lebih rendah dibandingkan dengan serat sabut kelapa ex. India, akan tetapi lebih tinggi dibandingkan dengan produksi Srilanka yaitu sebesar US $ 159 – 209 per ton (FOB).

Rantai pemasaran serat sabut kelapa secara garis besar dapat dilihat pada Grafik, Usaha kecil serat sabut kelapa secara umum tidak dapat langsung memasarkan produknya kepada eksportir sabut kelapa. Hal ini karena persyaratan mutu produk usaha kecil masih belum dapat memenuhi persyaratan mutu yang diinginkan. Selain itu, ketiadaan fasilitas mesin pengepress sabut – menyebabkan biaya transportasi per Kg produk untuk dipasarkan langsung ke eksportir menjadi mahal dan tidak layak.

grafik3-1
Rantai Tata Niaga Sabut Kelapa

Kendala dan hambatan yang dihadapi industri ini adalah relatif mahalnya biaya transportasi produk untuk pemasaran langsung ke industri pengguna serat sabut kelapa atau eksportir. Hal ini karena keterbatasan dan kendala modal untuk pengadaan mesin “press”. Akses terhadap informasi dan pasar ekspor merupakan salah satu kendala usaha kecil serat sabut kelapa pada aspek pemasaran ini. Hal ini juga berhubungan dengan kelengkapan mesin / peralatan produksi pada usaha kecil yang menyebabkan jumlah dan kualitas produk yang dihasilkan tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk ekspor langsung. Pada tingkat pemasaran lokal dan domestik yang terjadi selama ini, kendala yang dihadapi oleh pengusaha kecil adalah lamanya realisasi pembayaran hasil penjualan produk. Kendala ini semakin dirasakan oleh pengusaha kecil karena keterbatasan modal kerja.

Kendala dan hambatan lain yang sering dihadapi adalah dari segi kinerja (performance) mesin produksi dan mesin penggerak. Hambatan tersebut adalah jika terjadi kerusakan mesin sehingga jumlah produksi tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kinerja mesin menyebabkan kualitas produk dari segi panjang dan kebersihan serat yang tidak dapat memenuhi standar kualitas untuk ekspor. Selain panjang dan kebersihan serat, tingkat kekeringan juga merupakan salah satu kriteria kualitas yang tidak dapat dipenuhi oleh usaha kecil, yang disebabkan kendala modal untuk pengadaan mesin pengering. Selain itu, tidak dimilikinya mesin “press” menyebabkan mahalnya ongkos untuk transportasi produk, yang dapat membatasi alternatif pemasaran produk bagi usaha kecil.

Bahan baku industri serat sabut kelapa adalah sabut kelapa yang merupakan hasil samping dari usaha perdagangan buah kelapa untuk konsumsi rumah tangga serta industri pengolahan kopra atau minyak kelapa. Bahan baku ini secara umum terdapat secara melimpah di Kabupaten Kaur. Bahan baku sabut kelapa yang diinginkan adalah yang berasal dari buah kelapa dalam dengan tingkat kematangan yang sesuai untuk pembuatan minyak kelapa atau kopra.

Jenis produk yang dihasilkan dari industri pengolahan serat dapat dikelompokan menjadi dua yaitu : (1) Serat Sabut Kelapa dan (2) Butiran Gabus. Mutu serat sabut kelapa atau Coconut Fibre, ditentukan oleh warna, persentase kotoran, kadar air, dan proporsi antara bobot serat panjang dan serat pendek. Spesifikasi mutu produk serat yang diekspor oleh salah satu perusahaan eksportir di Jakarta adalah:

  1. Kadar air < 10 %
  2. Kandungan gabus: < 5 %
  3. Panjang serat ( 2- 10 cm) 30 %
  4. Panjang serat (10 – 25 cm) 70 %
  5. Ukuran Bale 70 x 70 x 50 cm
  6. Bobot /Bale 50 Kg /Bale

Produksi optimum untuk usaha sabut kelapa adalah tingkat produksi maksimum serat sabut kelapa terutama ditentukan oleh kapasitas mesin pemisah serat dan mesin sortasi / pengayak serta jam kerja mesin atau jumlah shift kerja. Usaha menjadi tidak menguntungkan dan tidak layak jika tingkat produksi berada di bawah 350 kg serat per hari dengan parameter teknis dan biaya adalah tetap. Semakin besar tingkat produksi sampai batas maksimum kapasitas mesin, maka tingkat keuntungan dan kelayakan usaha semakin baik.

Teknis produksi serat sabut kelapa relatif sederhana dan dapat diusahakan oleh usaha kecil, dengan kebutuhan modal investasi yang masih terjangkau untuk usaha kecil / menengah. Terdapat dua alternatif teknologi industri yang dapat dilaksanakan, yaitu teknologi sederhana dan teknologi yang lebih maju dari segi peralatan produksi yang digunakan, yang keduanya secara finansial adalah laik. Kredit investasi dapat dikembalikan pada tahun ke-6, dan selama umur proyek usaha industri serat sabut kelapa tidak mengalami defisit aliran kas.

Secara finansial industri serat sabut kelapa dengan mesin/peralatan yang lengkap memberikan indikator-indikator kelayakan yang lebih baik dibandingkan dengan aplikasi teknologi yang sederhana. Peningkatan kebutuhan modal investasi yang empat kali lebih besar (Rp. 530 juta) dibandingkan kebutuhan modal investasi dengan teknologi sederhana (Rp, 138,6 juta) memberikan manfaat NPV yang lima kali lebih besar (Rp. 608 juta) dibandingkan teknologi sederhana (Rp.127 juta), selama 15 tahun umur proyek.

Pada tingkat suku bunga 24 % per tahun, usaha industri pengolahan serat sabut kelapa pada skala 600 kg serat per hari adalah layak berdasarkan indikator kelayakan finansial, yaitu NPV= Rp 126.572.975; IRR = 55,44 %; B/C rasio = 2,10, masa pengembalian modal 3,5 tahun dan profit on sale sebesar 28 %. Untuk skala usaha 1500 kg serat per hari dengan mesin produksi yang lebih lengkap mempunyai indikator kelayakan yang lebih baik, yaitu NPV= Rp 607,826,671; IRR = 55,08 %; B/C rasio = 2,15 masa pengembalian modal 3,5 tahun dan profit on sale sebesar 32 %.

Untuk mengembangkan potensi sabut kelapa yang cukup besar, pemerintah Kabupaten Kaur pada tahun 2015 kembali mencoba membantu masyakat dengan bantuan mesin pengolah sabut kelapa yang diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan menambah nilai ekonomis komoditas kelapa di masyarakat.

Foto tumpukan batok kelapa
Tumpukan batok kelapa
Pengolahan Limbah Kelapa
Pengolahan Limbah Kelapa

Selain itu di masyarakat Kaur Selatan juga sudah mulai berkembang usaha arang batok kelapa yang juga merupakan produk sampingan dari potensi komoditas kelapa. Dengan jenis kelapa yang berukuran besar/super sehingga dapat menghasilkan kualitas arang batok kelapa yang berkualitas export. Produk arang kelapa dari Kaur ini sangat di minati konsumen dari wilayah jabodetabek karena hasil arangnya tebal dan tidak mudah hancur.

Foto Membakar arang batok
Produksi arang batok

Saat ini salah satu kelompok pemuda Kaur Rumah Kelapa Kaur yang mengolah arang batok mampu memproduksi arang sebanyak 10 Ton dalam seminggu karena bahan baku yang melimpah.

Potensi yang besar dan kelayakan akan usaha ini, merupakan peluang yang besar bagi para investor yang menanamkan modalnya pada sektor ini di Kabupaten Kaur bukan hanya sabut kelapa namun produk-produk sampingan kelapa yang lain.

Potensi Jernang (Dragon Blood) di Kabupaten Kaur

Sebangai kabupaten yang didominasi oleh hutan, Kabupaten Kaur menyimpan potensi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang cukup berlimpah salah satunya adalah Jernang. Mungkin banyak yang belum mengetahui apakah itu Jernang. Jernang merupakan produk turunan dari buah rotan yang dapat menghasilkan produk berupa getah/resin. Produk getah yang sejak masa penjajahan Belanda telah diketahui adalah getah jernang yang lebih dikenal dengan nama “darah naga“ dan dalam perdagangan internasional dikenal sebagai “dragon blood“.

Buah Jernang
Buah Jernang

Getah jernang dikenal sebagai bahan baku pewarna dalam industri porselin, marmer dan bahan penyamak kulit. Saat ini getah jernang memiliki nilai prosfektif pula sebagai bahan baku industri obat herbal dalam penanganan penyakit pendarahan (blooding) bahan obat-obatan seperti diare, disentri, serbuk untuk gigi, asma, sipilis, berkhasiat apbrodisiac (meningkatkan libido), penyembuhan luka dalam dan luka luar bahkan disalah satu penelitian jernang merupakan bahan anti kanker. Jernang sendiri dihasilkan dari beberapa jenis rotan namun yang paling potensial dan bernilai komersial tinggi adalah Daemonorops draco.

buahjernang
Buah jernang

Potensi dan produksi jernang di Kabupaten Kaur hingga kini memang belum tercatat secara resmi. Namun jernang yang dihasilkan di Kabupaten Kaur sudah merambah ke luar negeri terutama Hongkong dan Singapura. Salah satunya dilakukan oleh salah seorang pengusaha jernang di Kabupaten Kaur yaitu Yoppy. Saat ini baru mampu mengirimkan rata-rata 900-1000 kg dalam bentuk bubuk jernang dengan bermacam tingkat kualitas per sekali pengiriman, padahal permintaan akan getah jernang ini sangat tinggi dimana kebutuhan dunia saat ini terhadap serbuk jernang berkisar 500 ton serbuk pertahun. Jernang yang dibeli dari para pengepul masih dalam bentuk buah yang selanjutnya diolah untuk dihasilkan bubuk olehnya. Teknik pengolahan jernang yang dilakukan sudah melalui proses mekanis. Ada 3 jenis bentuk buah yang biasa didapatkan buah berukuran besar, menengah dan buah berukuran kecil, dan yang paling bagus menghasilkan bubuk jernang menurut penuturannya adalah buah yang berukuran kecil denan ukuran 0,4-0,5 cm. Buah berukuran kecil ini merupakan buah berumur remaja yang mempunyai kadar yang tinggi (2-3%), sedangkan makin besar dan tua maka kadar dari buah semakin sedikit (0,2 %).

mekanisasi pengolahan buah jernang
Mekanisasi pengolahan buah jernang
masyarakat Mengolah Buah Jernang
Masyarakat Mengolah Buah Jernang
Mengolah Buah jernag
Mengolah Buah jernang

Harga buah jernang di tingkat pengepul rata-rata berkisar antara 50 ribu perkilonya, sedangkan apabila sudah diolah menjadi bubuk jernang nilainya meningkat sangat tinggi. Pengolahan Jernang hingga 3-4 kali proses, pada proses pengolahan pertama kandungan yang didapat perkilo mencapai 2-3 %,  pengolahan dilakukan hingga ke ampas masih bernilai. Harga bubuk jernang dengan kadar tinggi berharga 3-3,5 juta rupiah perkilonya.

Pasokan buah jernang di Kaur terutama bersumber dari kecamatan Nasal, Muara Sahung dan Kinal. Rata-rata pencari buah jernang merupakan petani kopi, dimana saat buah kopi belum memasuki musim panen atau setelahmasa panen usai maka para petani ini masuk kedalam hutan untuk mencari buah jernang. Mereka mampu mendapatkan buah jernang ini 100-200 kg sekali masuk hutan selama 2-3 hari, dalam sebulan mereka mampu masuk kehutan mencari buah jernang hingga 3 kali dengan tingkat/grade yang beragam.

melihat kadar serbuk jernang
Melihat kadar serbuk jernang

Kendala yang ada saat ini adalah pengepul sendiri yang tersebar dibeberapa kecamatan di kabupaten kaur tidak mempunyai standar yang baku, selain itu tindakan nakal dengan melakukan oplosan terhadap grade buah jernang yang sudah diolah menjadi serbuk jernang. Sehingga kemampuan ekspor bubuk jernang pun menjadi terbatas, dengan kemampuan sekali pengiriman baru mencapai 400-500 kg serbuk per minggu dengan kadar 0,3-3  persen.

Bubuk Jernang Kabupaten Kaur Siap Ekspor
Bubuk Jernang Kabupaten Kaur Siap Ekspor
pengiriman serbuk jernang
Pengiriman serbuk jernang

Meski merupakan komoditas yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, saat ini pemanfaatan jernang yang dilakukan masyarakat masih mengandalkan dari hasil hutan dengan cara memanen jernang di dalam hutan, tentunya akan menghadapi kendala dikemudian hari yaitu semakin kurangnya rotan penghasil jernang akibat meningkatnya pembukaan lahan perkebunan baik oleh masyarakat maupun pihak swasta belum lagi pola pemanenan rotan jernang di hutan alam dilakukan dengan sistem pemanenan yang tidak lestari yaitu pemanenan dengan cara memotong batang. Kendala kelestarian tanaman rotan penghasil jernang ini bisa menjadi peluang usaha antara lain melakukan budidaya tanaman jernang maupun pembibitan tanaman jernang. Saat ini masyarakat di beberapa desa telah beralih melakukan budidaya jernang, hal ini untuk mengatasi kendala hasil buah jernang dari hutan, disamping permasalahan petani terhadap harga komoditas perkebunan lain seperti karet yang tidak stabil.

Harapan dari pengusaha jernang adalah adanya investasi pemurnian ekstraksi jernang di kabupaten Kaur, sehingga Kaur bukan hanya mengirimkan serbuk jernang tapi sudah dalam bentuk minyak hasil ekstraksi serbuk jernang dengan target ekspor adalah Australia, Singapura dan Hongkong. Kebutuhan investasi mesin ekstrasi pemurnian jernang senilai 5 Milyar rupiah dengan kapasitas 10 ton serbuk per batch per bulan dengan hasil 500-100 kg minyak ekstrak jernang. Dengan telah adanya para pengepul, pengolah dan pedagang jernang, potensi pengembangan budidaya jernang sangat terbuka lebar.

Mengenal Pusat Ekstrak Daerah Kabupaten Kaur

Gedung PED Kaur

Mungkin sudah sering kita mendengar kata EKSTRAK sejak salah satu iklan obat tayang di televisi dengan kalimat Ekstrak Buah Manggis. Dan terus bermunculan iklan-iklan ekstrak tanaman obat yang lain.

Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, potensi lahan dan keanekaragaman hayati di Indonesia memungkinkan untuk dilakukannya pengembangan tanaman biofarma yang beranekaragam. Dari hasil bumi tersebut salah satunya ialah tanaman obat yang digunakan secara luas sebagai obat tradisional.

Secara etimologi, obat tradisional melingkupi 3 dimensi manfaat yang luas yaitu melingkupi dimensi sosial budaya, dimensi kesehatan, dan dimensi ekonomi. Dilihat dari dimensi sosial budaya dan kesehatan, di Indonesia tanaman obat dan obat tradisional merupakan suatu warisan budaya yang telah digunakan secara turun temurun dan luas untuk memelihara kesehatan masyarakat. Khasiat obat tradisional pun telah terbukti secara empirik melalui penggunaan di masyarakat. Hal ini juga didukung oleh beberapa faktor diantaranya : kondisi trend kenaikan harga obat-obatan, meningkatnya kesadaran individu untuk meningkatkan kualitas kesehatannya, meningkatnya kesadaran masyarakat untuk lebih fokus pada prinsip kesehatan “mencegah lebih baik daripada mengobati”, kesadaran masyarakat akan bahaya mengkonsumsi obat-obat kimia dalam jangka waktu yang lama dan permintaan konsumen akan natural  products.

Sedangkat dilihat dari dimensi ekonomi, obat tradisional indonesia telah banyak berkiprah dalam pembangunan ekonomi melalui usaha kecil dan industri besar mulai dari usaha jamu gendong (UJG) dan usaha jamu racikan (UJR) sampai industri obat tradisional.

Dewasa ini pengembangan obat tradisional sudah semakin pesat karena mulai didukung oleh berbagai penelitian serta menggunakan teknologi tinggi. Hingga tahun 2015 tercatat terdapat 86 Industri Obat Tradisional (IOT) yang berdiri di Indonesia disusul dengan tumbuhnya Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT) dan Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT). IOT, UKOT dan UMOT merupakan industri dan usaha yang memproduksi produk obat tradisional yang berkualitas dan berstandar, dihasilkan melalui suatu proses yang terstandar pada setiap tahapan.

Salah satu upaya pemerintah khususnya Kementerian Kesehatan melalui Ditjen Binfar dan Alkes untuk meningkatkan standar dan kualitas BBOT yang dihasilkan di dalam negeri ialah melalui Fasilitasi Peralatan Pusat Pengolahan Pasca Panen Tanaman Obat (P4TO) dan Pusat Ekstrak Daerah (PED). Tujuan jangka panjang dari P4TO dan PED ini ialah mendukung program pemerintah seperti saintifikasi jamu serta pelayanan kesehatan tradisional, alternatif dan komplementer lainnya demi mencapai derajat kesehatan masyarakat yang paripurna. Sedangkan, tujuan khusus pembangunan P4TO ialah membantu petani untuk menyiapkan BBOT berupa Simplisia atau bahan alam yang dipergunakan sebagai obat dan belum mengalami pengolahan apapun dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan yang memenuhi standar dan persyaratan. P4TO ini diharapkan dapat membantu pelaku usaha obat tradisional yaitu Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT) dan Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT) untuk mendapatkan simplisia yang memenuhi standar dan persyaratan dengan suplai yang kontinyu serta menyiapkan bahan baku pembuatan ekstrak yang terstandar bagi Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA).

Pusat Ekstrak Daerah (PED) sendiri bertujuan untuk menampung simplisia hasil dari P4TO untuk diolah menjadi ekstrak yang dapat memenuhi standar dan persyaratan yang ditetapkan. Selain itu, PED juga dapat menerima toll ekstraksi dari pengusaha kecil obat tradisional (UKOT, UMOT, UJG, UJR); maupun masyarakat umum.

Kabupaten Kaur sejak tahun 2014 mulai mengembangkan tanaman obat-obatan yang diolah secara modern melalui kegiatan Fasilitasi Peralatan Pusat Pengolahan Pasca Panen Tanaman Obat (P4TO) dan Pusat Ekstrak Daerah (PED). Setelah lolos dari hasil survei dari tim Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), dan Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu bidang farmasi yang menyatakan, bahwa Kabupaten Kaur layak untuk didirikan Pusat Pengolahan Pasca Panen Tanaman Obat dan Pusat Ekstrak Daerah di Pondok Pusaka Technopark, Kabupaten Kaur, kelayakan ini dinilai dari ketersediaan infrastruktur, lokasi dan ketersedian bahan baku. Pengembangan tanaman obat-obatan biofarmaka ini menjadi satu-satunya di Provinsi Bengkulu.

Pembangunan Pusat Pengolahan Pasca Panen Tanaman Obat dan Pusat Ekstrak Daerah ini dipusatkan di Pondok Pusaka Technopark yang merupakan sarana adopsi dan transfer teknologi pengolahan biofarmaka untuk produksi biomedicine berbasis biodiversitas lokal. Di lokasi ini juga dibangun areal budidaya tanaman obat-obatan  yang luas dan disokong oleh fasilitas pembibitan pada kebun bibit permanen yang sudah dibangun terlebih dahulu.

Instalasi Peralatan Pusat Ekstrak DaerahSementara itu fasilitas gedung P4TO yang sudah dibangun dilengkapi dengan ruang dan peralatan penimbangan, ruang sortasi basah, ruang oven dan sortasi kering, gedung bahan simplisia, ruang pencucian, ruang penirisan, ruang pengubahan bentuk dan penepungan. Sedangkan di PED dilengkapi dengan ruang-ruang dan peralatan laboratorium serta workshop untuk ekstraksi bahan tanaman obat-obatan luar dan dan obat luar biofarmaka. Saat ini telah dikembangkan ekstrak obat dalam yang berasal dari bahan Jahe Merah serta ekstraksi obat luar dari bahan Serai. Dengan adanya Pusat Ekstrak Daerah ini maka nilai tambah dari tanaman obat herbal akan meningkat karena bahan baku yang digunakan tidak ada sisa (ampas dari Pusat Simplisia Daerah) karena semuanya diekstrak sebagai bahan baku untuk Obat Herbal terstandard.

Lembah Herna

Produk dari Pusat Ekstrak Daerah ini, nantinya tidak hanya akan diserap oleh daerah lainnya tapi bisa mensuply Pusat Ekstrak Nasional dan juga oleh industri kecantikan dan industri jamu lainnya sehingga daerah tidak perlu dikhawatirkan tidak terserap produksinya. Dengan demikian adanya Pusat Ekstrak Daerah akan meningkatkan nilai tambah tanaman obat tradisional/herbal di Kabupaten Kaur.

Pengembangan PED dan P4TO ini juga bekerjasama dengan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Kementerian Kesehatan Tawangmangu, Jawa Tengah. Diharapkan nantinya PED dan P4TO di Kabupaten Kaur ini mampu melahirkan klinik-klinik saintifikasi Jamu baik di Rumah Sakit maupun di Puskesmas-pusakesmas di Kabupaten Kaur khususnya dan menghasilkan bermacam-macam jenis ekstrak obat yang baik dan berkualitas serta terjangkau masyarakat.

Situs Resmi Bappeda Kabupaten Kaur